Assalamu'alaikum Wr. Wb. | Selamat datang di situs resmi Pengadilan Agama Ruteng | Media Pelayanan, Transparansi dan Informasi dan Perkara Online
Menu

 

           

×

Error

There was a problem loading image 4. Hakim C 2.jpg in mod_featcats

IMPLEMENTASI TEOLOGI ANTROPOSENTRIS DI ERA KONTEMPORER

PERSPEKTIF HASSAN HANAFI 

Oleh: Rifqi Kurnia Wazzan, S.H.I., M.H[1] 

A.   PENDAHULUAN

Manusia merupakan makhluk historis.[2] Seseorang berkembang dalam pengalaman dan pikiran, bersama dengan lingkungan dan zamannya. Oleh karena itu, baik dia sendiri maupun ekspresinya dan bersamaan dengan lingkup zamannya sendiri, harus dilihat menurut perkembangannya. Masing-masing orang bergumul dalam antar relasi dengan dunianya, untuk membentuk nasibnya dan sekaligus dibentuk olehnya.[3]

Krisis di era kontemporer telah memaksa para pemikir muslim untuk menggali ide-ide pambaharuan yang diharapkan bisa menjadi solusi untuk menjawab tantangan zaman. Realitas yang terjadi di negara-negara mayoritas muslim memang memprihatinkan. Ketergantungan dari segi ekonomi, sumber kekayaan alam yang tereksploitasi, perang saudara, maraknya westernisasi dan lain sebagainya adalah realitas yang tidak terbantahkan.

Salah satu gerakan pemikiran Islam kontemporer yang mendapatkan perhatian luas adalah gerakan rekonstruksi teologi, dari Teologi Teosentris menuju Teologi Antroposentrisyang dipelopori olehHassan Hanafi seorang pemikir Muslim yang menguasai pemikiran Barat, dan juga tradisi pemikiran Islam. Hanafi berusaha merekonstruksi pemikiran Islam ke arah pembebasan pemikiran umat Islam dari segala bentuk penindasan. Menurutnya umat Islam saat ini tengah menghadapi dua ancaman dari dalam dan luar Islam. Ancaman dari dalam adalah ketertindasan, keterbelakangan dan kemiskinan. Sedangkan ancaman dari luar Islam adalah Imperialisme, Zionisme dan Kapitalisme

 Bila masalah-masalah tajdid pada kurun waktu satu abad yang lalu berkisar pada sosial pembersihan aqidah dari berbagai rawasih syirik dan pembersih ibadah dari berbagai bentuk bid’ah, khurafat dan tahayul, maka masalah-masalah keagamaan yang mendesak dewasa ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan politik, ekonomi, social, budaya dan hukum. Tidak berlebihan bila dikatakan, masa depan Islam sangat bergantung pada kemampuan umat Islam untuk menjawab masalah-masalah sosial politik dan sosial ekonomi yang cukup mendasar dewasa ini. Disinilah peran sentral Hassan Hanafi di dalam merekonstruksi dunia Islam pada umumnya untuk bisa lepas dari kejumudan dan mampu secara mandiri mengatasi segala problematika yang dihadapi kaum muslim.

B.   PEMBAHASAN EPISTEMOLOGI TEOLOGI ANTROPOSENTRIS

Keimanan merupakan sesuatu yang esensial dalam setiap agama. Sedangkan dalam Islam sendiri, keimanan tersebut termanifestasikan dalam ajaran tauhid. Di satu sisi, tauhid berarti penghambaan Kepada Yang Esa. Dan di sisi lain ia berarti penolakan eksistensi selain Yang Esa. Doktrin tersebut berujung pada persamaan, keadilan dan kesatuan bagi seluruh manusia.[4] Pada dasarnya setiap manusia dilahirkan telah memiliki naluri keagamaan[5] atau naluri kepercayaan. Dalam tinjauan antropologi budaya, naluri ini muncul bersamaan dengan hasrat memperoleh kejelasan tentang hidup dan alam raya yang menjadi lingkungan hidup itu sendiri. Sebagaimana yang diintrodusir oleh Ibn Taimiyah, bahwa naluri itu sudah ada pada manusia secara alami (fitrah majbulah).[6]

Menurut Hassan Hanafi, sebagaimana dikutip oleh Arfiansyah,[7] bahwa teologi bukanlah ilmu ketuhanan, teologi tidak lebih merupakan hasil pemikiran manusia yang terkondisikan oleh waktu dan keadaan sosial, sehingga posisinya sama dengan ilmu-ilmu lainnya, tidak ada yang lebih utama di dalam ilmu-ilmu pengetahuan, karena sebagai pengetahuan dapat saja berubah-ubah pada perumusannya, sehingga memungkinkan untuk munculnya bentuk-bentuk teologi baru. Selanjutnya Hassan Hanafi mengkritik kesepakatan orang-orang terdahulu bahwa ilmu tauhid hanya sebagai sebuah disiplin tentang aqidah agama yang pembahasannya mengenai kesahihan aqidah yang bersifat teoritis murni, sebab itu aqidah menjadi terpisah dari tataran praktis.

Sudah menjadi keniscayaan, perlunya pergeseran paradigma dalam khazanah Teologi (Ilmu Teologi). Karena kalau teologi masih berbincang dengan masalah Tuhan (Teosentris) an sich dan tidak mengaitkan diskursusnya dengan persoalan-persoalan kemanusiaan universal (antroposentris), maka rumusan teologinya lambat laun akan Out of Date.[8]

Oleh karena itu, titik balik dari pemikiran yang beranggapan bahwa agama sebagai cara orang bertuhan saja (teosentris), telah melahirkan pemikiran baru yang sebaliknya, yaitu agama juga merupakan cara orang untuk bermanusia. Dalam cara pemahaman agama semacam ini, dapat memunculkan teologi yang bersifat antroposentris. Suatu teologi yang dapat memberi tempat bagi manusia menempa diri sebagaimana mestinya. Tuhan telah menciptakan alam semesta, oleh karena itu manusia dengan kesadaran Tuhannya dapat mengolahnya dengan bertanggung jawab dan seimbang. Sebab inti agama adalah cara manusia memanusiakan manusia, mensejahterakan manusia. Bagi Hanafi teologi yang bersifat antroposentris masih berpijak dengan teologi teosentris.   

Dalam gagasannya tentang rekonstruksi teologi tradisional yang bersifat antroposentris, Hanafi menegaskan perlunya mengubah orientasi perangkat konseptual sistem kepercayaan (teologi) sesuai dengan perubahan konteks sosial-politik yang terjadi. Teologi tradisional, kata Hanafi, lahir dalam konteks sejarah ketika inti keislaman sistem kepercayaan, yakni transendensi Tuhan, diserang oleh wakil-wakil dari sekte-sekte dan budaya lama. Teologi itu dimaksudkan untuk mempertahankan doktrin utama dan untuk memelihara kemurniannya. Dialektika berasal dari dialog dan mengandung pengertian saling menolak; hanya merupakan dialektika kata-kata, bukan dialektika konsep-konsep tentang sifat masyarakat atau tentang sejarah.[9]

Teologi dapat berperan sebagai suatu ideologi pembebasan bagi yang tertindas atau sebagai suatu pembenaran penjajahan oleh para penindas. Teologi memberikan fungsi legitimatif bagi setiap perjuangan kepentingan dari masing-masing lapisan masyarakat yang berbeda. Karena itu, Hanafi menyimpulkan bahwa tidak ada kebenaran obyektif atau arti yang berdiri sendiri, terlepas dari keinginan manusiawi. Kebenaran teologi, dengan demikian, adalah kebenaran korelasional atau, dalam bahasa Hanafi, persesuaian antara arti naskah asli yang berdiri sendiri dengan kenyataan obyektif yang selalu berupa nilai-nilai manusiawi yang universal. Sehingga suatu penafsiran bisa bersifat obyektif, bisa membaca kebenaran obyektif yang sama pada setiap ruang dan waktu.[10] Dengan bahasa lain bahwa, Tuhan bukanlah semata-mata sebuah tema pokok ilmu pengetahuan, bukan juga hanya sebagai obyek pembahasan, dan bukanlah sesuatu yang hanya perlu dipahami, dibenarkan, atau diungkapkan. Melainkan sesuatu yang menggerakkan perbuatan dan membangkitkan aktivitas, tujuan sebuah orientasi dan puncak dari segala pengejawantahan. Tuhan adalah penggerak kehidupan kita, sebagai motivator untuk mengarahkan tugas kita sebagai manusia dan sebagai hamba Allah.

Menurut hemat penulis, ‘Membela Tuhan’ adalah membela diri kita sebagai manusia, membela hak-hak kita sebagai manusia, membela keadilan kita sebagai manusia, membela kemerdekan kita sebagai manusia, membela nilai nilai kehidupan kita sebagai manusia, dan seterusnya. Kalau ada ajakan sebagian golongan yang mengarah kepada ‘Pembelaan terhadap Tuhan’, maka jawaban atas seruan tersebut haruslah selaras dengan kebutuhan realitas masyarakat pada waktu itu, karena ‘Membela Tuhan’ adalah membela manusia yang tertindas, manusia yang terjajah, manusia yang hidupnya susah, dan manusia yang “belum merdeka”. Jadi ‘Membela Tuhan’ adalah berbicara tentang menegakkan keadilan, dan membicarakan Tuhan harusnya akrab dengan eksistensi manusia dengan segenap problematika sosial, hukum, budaya, agama, politik, ekonomi dan lain sebagainya.

Bagi Ali Syari’ati, Islam sebagai suatu madzhab sosiologi ilmiah harus difungsikan sebagai kekuatan revolusioner untuk membebaskan rakyat tertindas, baik secara struktural maupun politik. Perubahan tidak didasarkan pada sesuatu yang kebetulan. Masyarakat mempunyai organisme dan norma. Manusia mempunyai kebebasan untuk bertindak sehingga campur tangannya dibutuhkan untuk mencapai perubahan.[11] Oleh karenanya, untuk menguji kadar keimanan seseorang kepada Tuhannya adalah terletak kepada tingkat kepeduliannya terhadap masyarakat sekitarnya, peduli terhadap manusia yang butuh bantuan dan lemah, yang termarginalkan dan yang masuk dalam golongan subordinat. Disitulah akan dinilai, sejauh mana komitmen keimanan kita di dalam memanifestasikan konsep ‘Membela Tuhan’.

Manusia di bumi ini adalah sebagai “Khalifah fi al-Ardh”, mewakili Allah untuk menata dunia. Di dalam kajian sufi disebutkan bahwa manusia adalah “tuhan” yang diamanahi untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Oleh karenanya, Islam yang telah diwahyukan ke Nabi Muhammad SAW membawa misi “Rahmatan lil ‘alamiin”, mewujudkan kedamaian ke seluruh alam semesta, ke seluruh penjuru dunia dan tidak ada penindasan. Dengan demikian untuk membenarkan dan menguji validitas akidah bukanlah tentang pemikiran dan pertanyaan yang spekulatif tentang Siapa Tuhan? Dimana Tuhan? Seperti Apa Wujud Tuhan? Apa saja dosa besar itu? dan Bagaimana takdir Tuhan berlaku di dunia?, melainkan melalui gerakan empiris terutama dalam gerakan pembebasan (liberation movement) dari berbagai bentuk penindasan.

Menurut Hassan Hanafi, ketika sebuah keyakinan atau akidah mampu menggerakkan kekuatan pembebasan dari berbagai belenggu penindasan, keterjajahan dan lain sebagainya, maka disitulah letak keberadaaan Tuhan, dan disitulah bukti Tuhan hadir dan ada. Keberadaan Tuhan berada dalam gerak manusia, dalam usaha melepaskan dirinya dari berbagai probematika sosial dan hukum yang menjeratnya, mampu menggerakkan manusia dalam membela dan menggerakkan keadilan. Secara normatif, pembebasan manusia dari kemiskinan, kebodohan, ancaman ketertindasan, serta perlakuan tidak adil adalah merupakan pokok pewahyuan ajaran Islam. Tanpa melihat latar belakang manusia tersebut, Islam berkepentingan untuk membebaskan mereka dari penderitaan hidup.[12]

Salah satu tantangan pemikiran yang muncul dan mendapat perhatian besar para tokoh Pemikir Muslim Kontemporer yang terbagi menjadi tiga aliran, yaitu Islamic traditionalism; islamic modernism; dan post-modernism[13] adalah tentang kalam atau teologi. Pemikiran kalam mendapat sorotan berangkat dari berbagai catatan ‘minor’ yang dialamatkan kepadanya, terutama terkait dengan manfaat kalam dalam pemikiran Islam yang cenderung dianggap bersifat meaningless. Karena itu, agar pemikiran kalam menemukan kembali ‘jati dirinya’ di era modern, harus dilakukan perumusan ulang untuk mereformulasikan konsepsi teologi. Sehingga dapat kondusif untuk menjawab tantangan riil kemanusiaan universal dan kehidupan kontemporer.[14]

Hanafi melanjutkan bahwa, rekonstruksi Teologi tidak harus membawa seseorang atau masyarakat untuk menghilangkan tradisi-tradisi lama. Rekonstruksi Teologi pada dasarnya dimaksudkan untuk menghadapkan ajaran Islam pada ancaman-ancaman baru yang ada pada era kontemporer. Dalam rangka memenuhi tuntutan tersebut, maka tradisi klasik (al-turast) digali sedemikian rupa untuk kemudian dituangkan dalam realitas duniawi yang sekarang. Atau bisa juga dinamakan sebagai aktifitas berfikir untuk melakukan revitalisasi warisan klasik Islam. Kata “tradisi” (al-turats) berasal dari penggunaan orang-orang modern di bawah pengaruh pemikiran Barat, sebagai terjemahan tidak sadar dan tidak langsung terhadap kata-kata seperti legacy, heritage, uberlieferung sebagai sesuatu yang menunjukkan akhir sebuah periode dan permulaan periode yang lain.

Di era globalisasi dan modern sekarang, untuk memahami Teologi haruslah mampu berdialektika dengan kondisi yang nyata, tidak hanya berputar-putar pada masalah yang sudah usang. Dengan demikian, teologi mampu merespon kepentingan masyarakat. Teologi merupakan suatu ilmu yang paling fundamental dalam tradisi Islam yang harus dibangun kembali sesuai dengan perspektif dan standar modernitas. Untuk itu, Hanafi mengajukan ide neo-kalam (ilmu kalam baru) beserta upayanya untuk merevitalisasi ilmu kalam tersebut. Apa yang dimaksudnya dengan ilmu tersebut bukan hanya ideologi doktrinal, melainkan ilmu itu lebih merupakan ideologi revolusi atau revolusi ideologis yang dapat memotivasi kaum Muslim yang hidup di zaman modern buat beraksi melawan despotisme dan penguasa otoriter. Dalam bentuk yang beragam, Hassan Hanafi selalu mengaitkan teologi ini dengan teologi tanah, teologi kaum tertindas, dan teologi pembebasan ala Amerika Latin.[15]

Dalam sejarah tradisi pemikiran Islam (Ilmu Kalam) kita akan banyak menjumpai hal-hal yang bersifat metafisik. Tema-tema yang berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan, kebebasan berkehendak, dosa besar dan lain sebagainya, telah mewarnai perjalanan sejarah umat Islam. Semua pembahasan tersebut tidak dilepaskan dari problem umat pada zaman tersebut. Ketika zaman berganti dan permasalahan pun berubah, maka merupakan sesuatu yang masuk akal jika dikotomi keilmuan harus selaras dengan apa yang terjadi di alam sejarah yang nyata.

Adapun program ini (revitaslisasi al-turast), merupakan sikap Hanafi terhadap tradisi Islam yang terdapat dalam buku Min al-Aqidah ila al-Saurah sebanyak lima jilid yang masing-masing terdiri dari enam ratus halaman. Buku yang membahas program ini juga ialah buku al-Turas wa al-Tajdid. Menurut Hanafi, rekonstruksi di sini artinya membangun kembali tradisi dengan menganggap peninggalan tersebut sebagai sesuatu yang berubah-ubah dan bersifat historis agar dapat diapresiasikan dengan modernitas[16] Hanafi menunjuk sejumlah ilmu-ilmu atau pemikiran Islam klasik seperti Ilmu Kalam, Ilmu Tafsir, dan Ilmu Hadis.[17]

Ia menjelaskan bahwa pemikiran Kalam Klasik terlalu teoritis, teosentris, elitis, dan konsepsional yang statis. Sedangkan Hanafi menghendaki Ilmu Kalam itu bersifat antroposentris, praktis, populis, transformatif, dan dinamis. Untuk mentransformasikan ilmu-ilmu serta pemikiran klasik menjadi ilmu atau pemikiran yang bersifat kemanusiaan, Hanafi memberikan penawaran dengan beberapa langkah berikut ini.[18]

a.    Pertama, langkah dekonstruksi. Langkah dekonstruksi ini dilakukan dengan menjelaskan aspek isinya, metodologi, dan juga penjelasan terhadap kontek sosio-historis yang melatarbelakangi kelahirannya, serta perkembangannya saat ini. Kemudian, memberikan penilaian atas kelebihan dan kekurangannya juga bagaimana fungsinya di masa sekarang.

b.    Kedua, langkah rekonstruksi. Langkah ini dilakukan dengan cara mentransfer teori-teori lama yang masih dapat dipertahankan –seperti rasionalisme- ke dalam perspektif baru yang didasarkan pada pertimbangan realitas kontemporer. Teori-teori tersebut selanjutnya dibangun mejadi sebuah ilmu yang berorientasi kepada kemanusiaan.

c.    Ketiga, langkah pengintegrasian. Langkah-langkah pengintegrasian ilmu-ilmu atau pemikiran klasik dan merubahnya menjadi ilmu kemanusiaan baru. Transformasi ilmu-ilmu yang ditawarkan Hanafi yaitu Usul Fiqh menjadi Metodologi Penelitian, Fiqh menjadi Ilmu Politik, Ekonomi, dan Hukum; Tasawuf menjadi Psikologi dan Etika; Ilmu Hadis menjadi Kritik Sejarah; Ilmu Kalam/Teologi (dengan konsepnya seperti Imamah, Naql-Aql, Khalq al-Af’al dan Tauhid) secara berurutan menjadi Ilmu Politik, Metodologi Penelitian, Psikologi, dan Psikologi Sosial, Filsafat (dengan konsep-konsepnya seperti mantiq, Tabi’iat) secara berurutan menjadi Metodologi Penelitian, Fisika, Psikologi Sosial, dan Sosiologi Pengetahuan

Sehingga, penulis berpendapat bahwa proses pembelajaran Ilmu Kalam dan Ushuluddin sekarang harusnya tidak hanya sekedar mengulas dan menghafal tentang sifat-sifat dan nama Allah, atau bahkan terjebak di dalam perdebatan apakah sifat Allah itu sama dengan dzat-Nya. Namun, lebih dari itu harus bisa melahirkan strategi-strategi untuk menghadirkan kepekaan dan kesadaran sosial, strategi untuk perjuangan pembebasan manusia dari keterjajahan baik sosial, ekonomi, politik, hukum, budaya, maupun agama. Dan yang terpenting dari Ilmu Kalam dan Ushuluddin tersebut adalah memerangi kebodohan, kemunduran dan keterbelakangan umat terutama kelompok ekonomi lemah dalam strata sosial masyarakat sehingga dapat mengubah kondisi mereka dari fase sejarah menuju fase yang lain, dari stagnan menjadi dinamis, dari turun ke bawah menjadi maju dalam sejarah. Seperti yang dikatakan oleh Hassan Hanafi bahwa, harus dilakukan sebuah interpretasi terhadap tradisi keilmuan (Ilmu Kalam dan Ushuluddin) untuk kemudian dijadikan sebagai ideologi yang membela hak-hak kaum tertindas.[19]

Selain itu analisa penulis di dalam kajian Rekonstruksi Teologi Hassan Hanafi adalah bahwa Rekonstruksi Teologi tidak harus membawa implikasi hilangnya tradisi-tradisi lama, namun untuk mengkonfrontasikan ancaman-ancaman baru yang datang ke dunia dengan menggunakan konsep yang terpelihara murni dalam sejarah. Tradisi yang terpelihara, menentukan pengaktifan untuk dituangkan dalam realitas duniawi saat ini. Dialektika harus dilakukan dalam bentuk tindakan-tindakan, bukan hanya terdiri atas konsep-konsep dan argumen-argumen antara individu-individu, melainkan dialektika berbagai masyarakat dan bangsa di antara kepentingan-kepentingan yang bertentangan. Rekonstruksi itu bertujuan untuk mendapatkan keberhasilan duniawi dengan memenuhi harapan-harapan dunia Muslim terhadap kemerdekaan, kebebasan, kesamaan sosial, penyatuan kembali identitas, kemajuan dan mobilisasi massa. Teologi harus mengarahkan sasarannya pada manusia sebagai tujuan perkataan (kalam) dan sebagai analisis percakapan. Karena itu harus tersusun secara kemanusiaan.

Landasan dari gerakan Rekonstruksi Teologi Hassan Hanafi yang menitikberatkan terhadap proyek peradaban al-turast wa al-tajdid untuk mengkonstruk Teologi Antroposentris itu diawali dari komitmen iman (berpijak dari turast), yaitu keimanan kita terhadap Allah, terhadap Rasul-Nya, terhadap turunnya Kitab Suci, terhadap datangnya Hari Kiamat dan terhadap ketetapan Tuhan atas Qada dan Qadar. Setelah itu, langkah selanjutnya dengan membangun komitmen sosial (bergerak dengan tajdid), melangkah untuk menjadi manusia yang membawa manfaat untuk manusia sekitarnya (khoirun an-naas anfa’uhum li an-naas), yang pada akhirnya nanti akan terwujud Islam “rahmatan lil ‘alamiin” secara paripurna.

Gerakan di dalam mempertahankan keilmuan Teologi yang ada di Ilmu Kalam “versi lama” adalah implementasi dari “al-muhafadzah ‘ala al-qadiim al-shalih” (memelihara tradisi lama yang baik). Dan langkah lanjutan untuk merealisasikan komitmen sosial di dalam Ilmu Kalam tersebut dengan menyusun strategi pembebasan nilai-nilai kemanusiaan adalah implementasi dari “al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah” (mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik). Dengan prinsip ini, para pemikir Islam kontemporer tidak sembarangan di dalam melakukan purifikasi terhadap tradisi yang sudah ada, begitupun tidak tergesa mengadopsi temuan-temuan baru. Selain itu, melalui prinsip ini pula, problem keotentikan dan kemoderenan (musykilah al-ashalah wa al-hadatsah) diikhtiari untuk terjembatani secara harmonis. Mengadopsi apa yang layak dalam tradisi untuk dikembangkan demi kepentingan masa kini dan masa depan merupakan langkah pemaknaan yang paradigmatis. Karena sebuah transformasi, baik pemikiran maupun sosial tetaplah harus beranjak dan menimba inspirasinya dari dalam tradisi. Maka diperlukan ikhtiar untuk menggali hal-hal yang ada dalam tradisi yang bisa mendukung transformasi tersebut.

C.   KESIMPULAN

Dasar epistemologi Hassan Hanafi tidak semata-mata bertumpu pada kesadaran dan paradigma Barat, tetapi juga berakar pada kesadaran dan tradisi kaum Muslimin sendiri. Selanjutnya, dasar epistemologi di atas diterapkannya dalam merekonstruksi pemikiran teologi yang baru. Dalam hal ini, rekonstruksi tersebut berupa memberikan makna baru terhadap term-term kalam dan sekaligus memberikan nama baru untuk terma-terma tersebut. Disini muncul penilaian bahwa rekonstruksi teologi yang dilakukannya dengan cara mengubah term-term teologi yang bersifat spiritual-religius menjadi sekadar material-duniawi akan bisa menggiring pada pemahaman agama menjadi hanya sebagai agenda sosial, praktis dan fungsional, lepas dari muatan-muatan spiritual dan transenden.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah, Amin, Falsafah Teologi di Era Posmodernisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995

 

Abdullah, Amin, Epistomologi Keilmuan Kalam dan Fikih dalam Merespon Perubahan di Era Negara-Bangsa dan Globalisasi (Pemikiran Filsafat Keilmuan Agama Islam Jasser Auda), dalam Media Syari’ah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial, Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, Vol. XIV No. 2, 2012

 

Afram al-Bustaniy, Fuad, Munjih al-Tullab, Beirut: Dar al-Masyriq, Cet. XV, 1986

 

Arfiansyah, Rekonstruksi Teologi Islam Hassan Hanafi, Skripsi pada Fakultas Ushuluddin, Jurusan Aqidah dan Filsafat IAIN Ar-Raniry, 2004

 

Assyaukanie, Luthfi, Tipologi dan Wacana Pemikiran Arab Kontemporer, Jurnal Pemikiran Islam Paramadina, Volume 1 Nomor 1, Juli-Desember 1998

 

Assyaukanie, Luthfi, Perlunya Oksidentalisme: Wawancara dengan Doktor Hassan Hanafi. Jurnal Ulumul Qur’an Nomor 5 dan 6 Volume V. 1994

 

Bakker, Anton dan Zubair, Charis, Metodologi Penelitian Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1990

 

Hanafi, Hassan,Al-Turas wa al-Tajdid Mauqifuna min al-Turas al-Qadim. Beirut: Al- Mu’assasah al-Jam’iyyah, Cet. IV 1992

 

Hanafi, Hassan, Min al-Aqidah Ila al-Tsaurah; al-Maqadimanat al-Nazhariah, Alih Bahasa oleh Asep Usman Ismail, Suadi Putro, dan Abdul Rauf, Dari Aqidah ke Revolusi; Sikap Kita Terhadap Tradisi Lama, Jakarta: Paramadina, 2003

 

Hanafi, Hassan, Pandangan Agama tentang Tanah, Suatu Pendekatan Islam, dalam Prisma 4, April 1984

 

Madjid, Nurcholis, Islam dan Doktrin Peradaban: Sebuah Telaah tentang Keimanan, Kemanusiaan dan Kemoderenan, Jakarta: Paramadina, 1992

 

Munir Mulkan, Abdul, Teologi Kiri; Landasan Gerakan Membela Kaum Mustadh’afin. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002

 

Ridwan, A.H., Reformasi Intelektual Islam: Pemikiran Hassan Hanafi tentang Reaktualisasi Tradisi Keilmuan Islam, Yogyakarta: Intaqi Press, 1998

 

Santoso, Listiyono, Kritik Hassan Hanafi atas Epistemologi Rasionalitas Modern dalam Seri Pemikiran Tokoh Epistemologi Kiri, Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2003

 

Syarif Romas, Chumaidi, Wacana Teologi Islam Kontemporer. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000

 

Supriyandi, Eko, Sosialisme Islam: Pemikiran Ali Syari’ati. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003

 

Susanto, Happy, Geliat Baru Pemikiran Islam Kontemporer. Dalam www.geocities.com, diakses tgl 7 Mei 2018.

 

Warson Munawir, Ahmad, Kamus al-Munawir: Arab-Indonesia, Yogyakarta: Ponpes al-Munawir, 1997

  



[1]Calon Hakim Pengadilan Agama Ruteng, NTT; Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Brawijaya.

[2] Anton Bakker dan Charis Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hlml. 47.

[3] Listiyono Santoso, Kritik Hassan Hanafi atas Epistemologi Rasionalitas Modern dalam Seri Pemikiran Tokoh Epistemologi Kiri, (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2003), hal. 267.

[4]Chumaidi Syarif Romas, Wacana Teologi Islam Kontemporer. (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000), hlm. 51.

[5]Naluri ini disebut juga fitrah beragama. Kata fitrah secara leksikal bermakna sifat pembawaan yang ada sejak, ciptaan, agama. Lihat, Ahmad Warson Munawir, Kamus al-Munawir: Arab-Indonesia, (Yogyakarta: Ponpes al-Munawir, 1997), hlm. 1063. Secara terminologi fitrah bermakna: 1. Wsatak dan karakter yang dipersiapkan untuk menerima ajaran agama, 2. Sifat yang digunakan untuk menyifati semua yang ada di dunia pada masa awal penciptaannya, 3. Bentuk dan system yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk, 4. Sifat-sifat Allah yang ditiupkan pada setiap manusia sebelum dilahirkan dan akan diaktualisasikan dalam kehidupannya, 5. Kesangguan untuk menerima kebenaran, 6. Potensi dasar atau perasaan untuk mengabdi dan makrifat kepada Allah. Lihat, Fuad Afram al-Bustaniy, Munjih al-Tullab, (Beirut: Dar al-Masyriq, Cet. XV, 1986), hlm. 595.

[6]Nurcholis Madjid, Islam dan Doktrin Peradaban: Sebuah Telaah tentang Keimanan, Kemanusiaan dan Kemoderenan, (Jakarta: Paramadina, 1992), hlm. XVI.

[7] Arfiansyah, Rekonstruksi Teologi Islam Hassan Hanafi, Skripsi pada Fakultas Ushuluddin, Jurusan Aqidah dan Filsafat IAIN Ar-Raniry, 2004 hlm. 54-56. Lihat juga buku kutipan Arfiansyah: Hassan Hanafi, Min al-Aqidah Ila al-Tsaurah; al-Maqadimanat al-Nazhariah, Alih Bahasa oleh Asep Usman Ismail, Suadi Putro, dan Abdul Rauf, Dari Aqidah ke Revolusi; Sikap Kita Terhadap Tradisi Lama, (Jakarta: Paramadina, 2003), hal. 39. Lihat juga; A.H. Ridwan, Reformasi Intelektual Islam: Pemikiran Hassan Hanafi tentang Reaktualisasi Tradisi Keilmuan Islam, (Yogyakarta: Intaqi Press, 1998), hal. 49.

[8] Amin Abdullah, Falsafah Teologi di Era Posmodernisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), hlm. 42.

[9] Hassan Hanafi, Pandangan Agama tentang Tanah, Suatu Pendekatan Islam, dalam Prisma 4, April 1984, hlm. 6.

[10] Hassan Hanafi, Pandangan Agama tentang Tanah, Suatu Pendekatan Islam,…hlm. 39-40.

[11]Eko Supriyandi, Sosialisme Islam: Pemikiran Ali Syari’ati. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 138.

[12]Abdul Munir Mulkan, Teologi Kiri; Landasan Gerakan Membela Kaum Mustadh’afin. (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002), hlm. 1.

[13] Amin Abdullah, Epistomologi Keilmuan Kalam dan Fikih dalam Merespon Perubahan di Era Negara-Bangsa dan Globalisasi (Pemikiran Filsafat Keilmuan Agama Islam Jasser Auda), dalam Media Syari’ah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial, (Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, Vol. XIV No. 2, 2012), hlm. 131-133.

[14] A. H Ridwan, Reformasi Intelektual Islam: Pemikiran Hassan Hanafi Tentang Reaktualisasi Tradisi Keilmuan Islam, (Yogyakarta: Ittaqa, 1998 ), hlm. 42-43.

[15] A. Luthfi Assyaukanie, Tipologi dan Wacana Pemikiran Arab Kontemporer, (Jurnal Pemikiran Islam Paramadina, Volume 1 Nomor 1, Juli-Desember 1998), hlm. 74-75.

[16] A. Luthfi Al-Syaukanie, Perlunya Oksidentalisme: Wawancara dengan Doktor Hassan Hanafi. (Jurnal Ulumul Qur’an Nomor 5 dan 6 Volume V. 1994) hlm. 123.

[17]Hassan Hanafi,Al-Turas wa al-Tajdid Mauqifuna min al-Turas al-Qadim. (Beirut: Al- Mu’assasah al-Jam’iyyah, Cet. IV 1992) hlm. 178-180.

[18]Hassan Hanafi,Al-Turas wa al-Tajdid..hlm. 174-175.

[19]Happy Susanto, Geliat Baru Pemikiran Islam Kontemporer. Dalam www.geocities.com, diakses tgl 7 Mei 2018.

 

 

Go to top