Assalamu'alaikum Wr. Wb. | Selamat datang di situs resmi Pengadilan Agama Ruteng | Media Pelayanan, Transparansi dan Informasi dan Perkara Online
Menu

 

           

×

Error

There was a problem loading image 4. Hakim C 2.jpg in mod_featcats

www.pa-ruteng.go.id │16/10/2018

Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan semakin kompleksnya perkara yang ditangani oleh Pengadilan Agama Ruteng,  maka selain untuk menambah ilmu pengetahuan dan kesiapan untuk menangani perkara,  Pengadilan Agama Ruteng mengadakan diskusi hukum.

Bertempat diruang rapat Ketua, pada hari Selasa, 16 Oktober 2018, pukul 08.30-09.30 WITA, diskusi hukum berlangsung dengan tema "Problematika Eksekusi Atas Nafkah Anakyang Dilalaikan Oleh Mantan Suami," yang disajikan oleh Novendri Eka Saputra, S.H.I.

Diskusi kali ini diikuti oleh Wakil Ketua, Para Hakim, seluruh jajaran kepaniteran dan kesekretariatan Pengadilan Agama Ruteng.

Mengawali acara diskusi hukum Wakil Ketua Pengadilan Agama Ruteng Al Fitri, S.Ag., S.H., M.H.I, mengatakan “diskusi hukum tentu memberikan banyak manfaat bagi aparatur pengadilan dalam melaksanakan tugas sehari-hari, di antara manfaat dalam berdiskusi adalah melatih kemampuan berpikir sehingga pikiran menjadi luas dan tidak terbatas, dan menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman, hal itu bisa dilihat dari bertambahnya wawasan kita dari hasil pemikiran dan topik-topik yang akan dibahas selama diskusi berlangsung.”

Mengakhiri prolognya, Waka PA Ruteng, menyampaikan diskusi hokum ini akan dilaksanakan sebulan sekali pada hari Selasa minggu kedua.

Dalam paparannya pemakalah menyatakan ada tiga unsur penting yang harus termuat dalam putusan hakim sehingga bisa membuat putusan hakim tersebut dapat dikatakan sempurna, ketiga unsur penting tersebut adalah keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum.

Dalam hal kepastian hukum terkadang hakim dalam suatu perkara perceraian khususnya cerai talak di dalamnya terdapat tuntutan/gugatan rekonvensi tentang nafkah anak, namun sering kali hakim lupa/lalai dalam mempertimbangkan apakah produk putusannya tersebut di kemudian hari dapat dieksekusi atau tidak, karena berdasarkan pengalaman pemakalah selama bertugas sebagai hakim di Pengadilan Agama Ruteng dalam putusan tentang nafkah anak tentang diktum amar putusan hanya memuat pembebanan terhadap pihak ayah untuk memberi nafkah kepada anaknya sekurang-kurangnya setiap bulan  sebesar sekian rupiah hingga anak tersebut berumur 21 tahun atau sudah menikah.

Namun masalahnya mucul ketika ayah melalaikan kewajiban untuk mengirim nafkah yang menjadi kewajibannya, oleh sebab itu untuk mengtasi masalah itu sebaiknya hakim meletakan jaminan agar ada beban psikis atau sok terapi bagi ayah untuk memenuhi kewajibannya..

Diskusi berkahir dengan berbagai pertanyaan dari anggota diskusi yang hadir, dan langsung ditanggapi oleh pembawa makalah dan dilengkapi oleh hakim dan pegawai yang hadir. (IT/af)

Go to top